Tuesday, September 18, 2018

KEMBALI KE ABAD PERTENGAHAN DI OLD TOWN TALLIN, ESTONIA

Kapal M/s Finlandia Eckerö Line akhirnya berlabuh di Terminal A, Tallin. Andai penginapan di area Old Town, bisa geret koper langsung ke hotel. Namun karena kesalahan booking, terpaksalah naik bis menuju hotel yang deket dengan airport. Hasil pencarian di dunia maya yang semuanya ada, cara terbaik (baca: termurah) adalah beli kartu untuk transportasi umum disana infonya disini . Kartu seharga 8 itu valid untuk 5 hari. Sebetulnya ada Tallin Card yang juga khusus turis, selain bebas naik transportasi umum juga bisa free entrance ke beberapa museum. Namun jelas dari harga lebih mahal. Kartu ini bebas untuk semua transportasi dalam kota, pernah sekali salah naik bis AKAP harus bayar lagi..untung cuman 70c karena 2 stop aja. *itungannya ruwet kalo urusan Euro, setiap sen berarti
6€ (5hari) + 2€ deposit = 8
Singkat cerita, sampailah di hotel. Murah siih untuk ukuran berbintang 4, namun rasanya terlalu mewah untuk kartu ATM saya yang isinya setipis tempe. Tiba di hotel sudah hampir jam 7 malam, manakala kehidupan di sana berakhir jam 9pm. Akhirnya hari pertama di Tallin hanya dihabiskan menyusuri mall yang cilakanya ada di samping hotel. Godaan untuk menggesek kartu jelas ada, untung tertahankan dengan batas kiloan bagasi. Jadi hari pertama ngemol hanya keluar duit untuk makan Tomyam yang alhamdulillahnya cukup 6€ saja.

Semur apa Tomyam iki?

Sayang sekali hotel mewah itu tidak dilengkapi pemanas air. Manakala kalau bikin kopi pake air keran, panasnya kurang mateng..yowes pasrah ngeteh ajalah. Untungnya lagi gembel di perut pengertian, ga nuntut breakfast manja di hotel yang harganya 17€. Memang dibandingkan Finlandia, harga makan di Tallin ya lebih beliable..namun tetep aja kalau dikonversi ke rupiah langsung keinget harga Siomay Bang Yono depan kampus.

Dengan berbekal Tallin Smartcard, jam 10an pagi udah nongkrong di halte depan hotel nyegat bis no 2 ke arah Old Town. Sudah ngecek di google map dimana harus berhenti. Mungkin saking senangnya menginjak negara Baltic, eeh lha kok bablas,..tiba-tiba sudah sampai di terminal ferry kemarin lagi. Supirnya sampai harus nyamperin nyuruh turun. Rada misuh-misuh juga batin ini karena terpaksa harus jalan balik ke Old Town, mana mulai hujan deres. Tapi dasar hujan Eropa, dia ga lama tercurahnya.  Sampai di gerbang Old Town hujan mulai merintik dan mereda, maka acara jalan kaki keliling pun menyenangkan.

Ada banyak point of interest di sini, tetapi rasanya setiap pengkolan layak untuk foto. Berbagai sumber menyebutkan Old Town Tallin ini termasuk kota terbaik di Eropa Utara yang mempertahankan kecantikan gaya kota di Abad Pertengahan. Jalanan dari batu yang tertata dan berliku, arsitektur bangunan yang nampak kokoh dan menara-menara Gothic dimana-mana, berhasil membawa kita seolah-olah memang berada di negeri dongeng. Mungkin ga akan kaget kalau tiba-tiba ketemu Shrek dan rombongannya #khayalan

Cobalah lihat poto-poto ini:

St. Nicholas' Church
Add caption

Paks Margareeta, Estonia maritime museum



Reichmanni maja


Bekas markas KGB, ada penjara bawah tanahnya

cafe-cafe sepanjang Town hall square

Town hall square

Abang becak 
Hinke Tower

Munkade-Tagune tower

moto gedung ini sampai nungging tp gedungnya malah jd miring haha

Setelah kaki mulai gemeter, akhirnya mampir McD yang harganya pasti-pasti aja. Sempet ngelirik makan mewah di restoran sepanjang jalan, agak terjangkau sih..namun kan hidup masih panjang harus dijalani. Hidup realistis ajalah, makan “sampah” 6-7€ sambil numpang ngecas.

Tongkrongan irit, free wifi

Menjelang balik hotel, nemu pasar tradisional. Tergoda lihat harga buah-buahan yang terjangkau, bahkan dibanding Jakarta lebih murah. Terbelilah sekantong apel hanya 1.20€ lumayan bisa buat sarapan sehat (baca: irit).
 
Sarapan buah segar
Kesimpulannya, daripada bayar mahal untuk ngegym,..mending piknik deh plus makan sehat gini. Insyaallah sehat lahir dan batin serta hidup tidak julid..yee kaaan

salam piknik 
@denikalogi



i

No comments:

Post a Comment

 
feed