Jendela Untuk Mereka

Mari mengabdi dan berbagi di Rumah Cerdas Berbudi Luhur (RCBL) di desa Madurejo, Prambanan.

Romantisme Phuket

Senja yang meleleh di Kemala Beach, Phuket-Thailand....satu-satunya destinasi yang membuat kami merasa kaya, sangat direkomendasi untuk traveler kere tapi standar tinggi !

Golden Sunrise, Angkor Wat

Pemerintah Kamboja tahu cara menghargai keindahan alam ini dengan dolar...Sungguh kecantikan sinar emas pagi hari melupakan diri!

Ciao, Venice!

Siapapun yang ke Italy, pergilah ke Venice, the city of water atau Queen of the Adriatic..one of the most beautiful places in the world ..Menyusuri Canal dengan Gondola yang dikayuh oleh Italiano nan tampan, siapa yang tidak lupa diri uhuuuy

Pantaiku Indonesiaku

Mengelilingi Pantai Mutun, Lampung dengan perahu motor,..rasakan kelembutan pasir putih bersihnya, nikmati kesegaran kelapa mudanya..tapi sayang jalan menuju lokasi rusak, PR untuk pemda Lampung!

Saturday, November 4, 2017

PIKNIK TERLEMPUNG 2017

Meski tahun 2017 masih sebulan lagi, tapi sepertinya saya yakin piknik ke Chiang Mai Thailand adalah piknik terlempung (baca: piknik paling ga mutuuu). Seperti pernah cerita sebelumnya, belum napas sepulang dari Eropa saya “dipaksa” Hamba Allah untuk menemani piknik ke Chiang Mai. Tiket dan akomodasi sudah dipesan, makan jelas ditanggung. Pokoknya berangkat cuman sangu duit 300rb di dompet untuk 5 hari piknik ke Chiang Mai dan Bangkok.

Singkat cerita sampailah kita di Bangkok, transit menunggu flight ke Chiang Mai. Sambil nunggu saya nanya Hamba Allah, kita ke Chiang Mai ini mau kemana aja? Dan jawabnya adalah “ga tau, terserah kamu aja”..laah bagaimana cerita? Akhirnya sibuklah saya browsing pake wifi bandara, ada apa aja di Chiang Mai..saya bener-bener ga prepare untuk trip ini. Keburu dipanggil boarding, kita ga sempat menentukan mau kemana aja.

Begitu mendarat, otw ke hotel saya nanya ke supir taksi tentang destinasi wisata di Chiang Mai. Baru tau kalau tempat-tempat yg dimau Hamba Allah ini ternyata jauh di luar kota semua, padahal kita hanya 2 malam disini. Sesampai di hotel, kita berdua kaget. Kok hotelnya gelap kayak ga berpenghuni, dan di depan hotel ga ada apa-apa. Saya nanya donk, apa pertimbangannya milih hotel  ini dan siapa yang milih? Jawabnya ya dia sendiri yang mesen hotel, trus katanya deket apaa gituu (ga jelas). Lenyaplah sudah bayangan piknik dengan adegan bermanja manja di pinggir kolam renang hotel L 

Setelah check in, sepertinya saat itu hampir magrib, kita memutuskan ke night market aja. Si Hamba Allah sudah siap dengan sepatu sport barunya. Dia emang bilang mau olahraga jalan kaki selama piknik makanya siap banget dengan sepatu baru segala. Liat di google map jarak hotel ke night market hanya sekitar 1.7km..aman lah jalan kaki. Namun, baru jalan sekitar 100m dengan sepatu barunya, si Hamba Allah mulai merengek “naik taksi yuuk..apa naik tuk tuk gitu”..saya yang masih gagah berkat latian jalan kaki sampai kuku biru di Eropa jelas menolak. Tapi ga tega juga liat jalan Hamba Allah mulai terhuyung-huyung (pasti kaki udah bengkak hahaha) Alhamdulillah ada Tuk Tuk yg mau berhenti, dan cukup bayar 20THB per gundul kita sudah sampai di night market. Baliknya jangan ditanya, jelas langsung nyarter Tuk Tuk laah, kita ngikik-ngikik sendiri di tengah deru Tuk Tuk yang meliuk-liuk J

Besoknya kita memutuskan ikut tour ke Chiang Rai full day, balik-balik sudah malam dan pasti tepar, manakala besoknya kita sudah ke Bangkok. Jadi praktis kita di Chiang Mai itu cuman main ke pasar malam hadeeh piknik opoo ikii..

Selanjutnya kita dua hari di Bangkok, ga faham juga kenapa harus kesini..kenapa ga lamaan di Chiang Mai yang kita berdua belum pernah. Lagi-lagi zonk pas sampai hotel di Bangkok. Pertanyaan saya masih sama “apa pertimbangan milih hotel ini? deket apa? Gimana engga, hotel kita di depannya jalan raya yang ga ada apa-apa. Begitu buka jendela kamar, pemandangan kita adalan PINTU TOL.. brasa piknik ke Grogol aja L Setelah liat di google map, ternyata hanya sekitar 1-2km aja ke kawasan Discovery Bangkok..namuuun begitu jalan sekitar 50m, kita berhadapan dengan jembatan penyebarangan yg tinggi jembatan Semanggi #zonk ..Tawaran saya, kita lanjut jalan2 (dengan naik ke JPO) atau balik hotel, dan taulah apa jawabannya J Akhirnya malam itu kita hanya di kamar, saya begadang menyelesaikan laporan sedangkan Hamba Allah hanya gulang guling di kasur sambil nyanyi “asal kau bahagia” J

Hari kedua di Bangkok kita ke Museum Lilin Madame Tussaud, dengan pertimbangan ga banyak jalan kaki haha .. itupun setelah selesai keliling dia udah ngeluh capek, padahal kita berencana akan menghabiskan malam terakhir di Hard Rock Bangkok makan keripikn (baca: nachos)..gagal sudah nongki cantik kita, langsung balik ke hotel aja weees


Tapi meski trip ini terlempung, kita tetep happy loh..lima hari ketawa ga jelas..asal kau bahagia ajalah pokoknya J







»»  ReadMore...

(Jangan) ke Long Neck Karen Village, Chiang Rai -Thailand Utara

Ketika kemarin ke Chiang Mai, penasaran pengen berkunjung ke Long Neck Village ini. Kebetulan desa ini termasuk dalam “jualan” paket wisata di Chiang Mai. Dari Chiang Mai kita naik van sekitar 3 jam ke Chiang Rai, provinsi paling utara di Thailand yang berbatasan dengan Myanmar dan Laos.

Kita harus bayar tiket masuk berdua 500THB (IDR200an ribu).  Suasana desa mirip perkampungan suku Sasak di Lombok. Jalanan desa masih tanah liat, rumah-rumah dengan atap jerami berjajar rapi sebagai tempat “display”.  Entah kenapa rasanya jadi kurang nyaman, melihat para wanita berleher panjang seperti dipajang menanti turis. Di setiap rumah, mereka menjajakan kain, atau hasil kerajinan desa sambil melayani foto dari para turis  (termasuk saya). Desanya pun cuma kecil seputaran habis, tapi kan penasaran karena belum pernah.

Konon, suku Kayan (bagian dari suku Karen) yang tinggal di desa ini asalnya dari Burma (Myanmar). Mereka terpaksa mengungsi ke wilayah Thailand karena terjadi perselisihan dengan junta militer akhir tahun 1980an. Sedihnya, mereka ditampung oleh pemerintah Thailand sebagai tapi  dibatasi geraknya, tidak boleh meninggalkan wilayah desa ini. Mereka tidak bisa kerja seperti orang Thai pada umumnya. Kerjaan mereka ya “jualan” di desa ini, bahkan banyak turis asing yang menyebut desa ini seperti “human zoo”. Katanya anak-anak mereka sekarang sudah boleh ke sekolah umum, karena generasi tua banyak yang tidak bisa bahasa Thai.

Perempuan suku Kayan di desa Long Neck Karen ini juga disebut sebagai “giraffe woman”. Menurut sejarahnya, awal mula mereka dulu pakai kalung di leher itu untuk menghindari dari serangan binatang buas karena hidupnya di hutan. Entah gimana cerita kemudian kalung di leher menjadi lambang kecantikan. Mereka harus menggunakan kalung di leher dan kakinya sejak kecil biar cantik. Makin panjang makin cantik, dan katanya mereka tidak boleh melepas kalungnya terlalu lama karena bisa patah leher…kita liatnya kok ngilu ya. Kalau mau cantik mbok ya pakai bedak ama gincu aja sii..tidak menyiksa  .. mereka betul-betul menghayati  beauty is pain L








»»  ReadMore...

Friday, September 29, 2017

VERSI LAIN CERITA G30S PKI


Ketika orang meributkan versi mana yang benar sehubungan kasus penculikan para Jenderal kita atau yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) oleh PKI, saya punya cerita sendiri.

Cerita ini terjadi ketika saya SMP (yang pasti sudah sangat lama hahaha). Saat itu dalam sebuah pelajaran kita diminta membuat sosiodrama tentang peristiwa G30S PKI. Singkat cerita, kelompok kita kebagian adegan penculikan Jendral Abdul Haris Nasution. Melewati latihan yang serius kita sangat pede ketika tiba giliran maju. Saat itu saya bukan pemeran utama hanya pemeran pembantu, maksudnya beneran jadi pembantu di rumah Jenderal AH. Nasution Untuk membuat adegan menjadi penuh drama, kita mulakan cerita dengan adegan pembantu yang sedang menyapu (drama dan dunia nyata kok sama aja kerjaannya). Teman yang berperan sebagai PKI ada di luar kelas. Pintu kelas yang sengaja kita tutup biar adegan makin nyata, tiba-tiba diketok keras oleh salah satu teman yang jadi PKI. 

Terjadilah dialog:

PKI : tok tok tok *mengetuk keras pintu

Pembantu pura-pura kaget dan menuju pintu

Pembantu: Siapa?
PKI: buka pintunya!!! *teriak dari luar kelas

Pierre Tendean mengintip ke luar dan melihat PKI, kemudian menyuruh Jenderal AH Nasution untuk menyelamatkan diri. Teman yang memerankan Sang Jenderal (pakai kostum sarung) kemudian betulan meloncat jendela kelas untuk menghidupkan drama.

Pembantu pura-pura ketakutan ketika membuka pintu dan melihat para PKI. Kemudian salah seorang PKI membentak si pembantu.

PKI: Bapak mana??? ……….. BAPAK PERGI KE BANDUNG!!!

Pembantu bengong sambil mikir .. laah kan harusnya gua yang jawab  “Bapak pergi ke Bandung” .. Ini PKI nanya sendiri dan jawab sendiri ngambil jatah line pembantu hahahaha

Sang Jenderal yang udah terlanjur loncat jendela di luar misuh-misuh kesel hahhaha


Bubar daaah ,…


Jangan serius-serius bacanya yaa…kalau menolak PKI hadir kembali ya tinggal ga usah diyakini dan diikuti ideologinya. Kita kan bukan ORANG BODOH, sudah makan sekolahan... mosok sih mau dibohongi PKI #renunganpolitik


*ditulis sehari sebelum tanggal 30 September 2017


»»  ReadMore...

 
feed