Monday, November 28, 2016

KILLING FIELD – KAMBOJA

Kalau diminta menyebutkan pemimpin dunia yang terkenal dengan kekejamannya, nama Pol Pot  akan muncul. Tahun 1975 Pol Pot menjadi Perdana Menteri Kamboja setelah berhasil menggulingkan kekuasaan Pangeran Shihanouk.

Sepanjang tahun 1975-1975 rezim Khmer Merah (Khmer Rouge) yang dipimpin Pol Pot telah melakukan genosida karena membantai hampir 2 juta rakyat  Kamboja. Selain rakyat biasa yang menjadi korban, Khmer Merah banyak membunuh kaum intelektual dan biksu karena dianggap bertanggung jawab menyebarkan perlawanan terhadap rezim Khmer Merah. Target utama  Khmer Merah adalah mereka-mereka yang memiliki koneksi dengan pemerintah atau pihak asing.

Sebelum dibunuh, warga lokal dan asing yang ditangkap, dimasukkan ke penjara Tuol Sleng. Mereka disebut sebagai Security Prison (S-21).  Para tahanan S-21 ini dibawa ke Choueng Ek naik truk setiap 2-3 minggu setiap bulannya. Satu truk biasanya berisi 20-30 tahanan yang yang dibawa dengan mata ditutup.

Tempat pembantaian korban Pol Pot di Choueng Ek inilah yang dikenal sebagai Killing Field. Letaknya sekitar 1.4km dari Phnom Penh, naik Tuk Tuk sekitar 30-40 menit. Ketika berkunjung kesini, aura ngeri langsung terasa. Killing field memang menjadi kuburan massal bagi korban Pol Pot. Banyak korban yang harus menggali sendiri kuburan mereka sendiri sebelum dieksekusi. Terlalu menyedihkan, bahkan hanya dengan menuliskan cerita ini saja L

Diceritakan di Killing Field, bahwa saking banyaknya tahanan yang datang (lebih dari 300 sehari), mereka tidak bisa semuanya langsung dieksekusi hari itu juga. Mereka yang belum dibunuh, akan ditahan di ruang yang gelap (the dark and gloomy detention). Keterangan  di lokasi itu menjelaskan, ruangan ini dibuat dari kayu dan atap baja sehingga sangat rapat dan gelap dengan tujuan para tahanan tidak bisa melihat satu sama lainnya.

Area Killing Field ini lumayan luas, ditumbuhi pepohonan seperti hutan bermain kalau kita tidak tau. Setiap titik area merupakan kuburan massal korban yang dieksekusi bersama. Sedih banget setiap kali membaca keterangan di area itu. Ada dua pohon besar yang sampai sekarang saya masih terbayang kengeriannya kalau ingat. Pohon besar satu ditulis cerita bahwa disitulah tempat membunuh anak-anak atau bayi. Jadi, untuk menghemat peluru mereka ini dieksekusi dengan dilemparkan ke pohon L Khmer Merah membunuh anak-anak dan bayi agar kelak ketika dewasa mereka tidak akan membalas dendan. Pohon besar kedua ditulis keterangan sebagai tempat untuk menggantung loudspeaker besar. Setiap eksekusi dilaksanakan, diputarkan lagu-lagu untuk menyamarkan suara jeritan para korban L Kekejaman macam apa ini, betul-betul kejahatan kemanusiaan (crime against humanity) yang luar biasa.

Setelah korban dibunuh dan dimasukkan ke lobang, para eksekutor menyemprotkan cairan kimia dengan dua tujuan. Pertama, untuk sterilisasi dan mencegah bau busuk dari mayat yang bisa mengganggu mereka. Kedua, untuk memastikan kematian mereka-mereka yang dikubur secara hidup-hidup L

Berkunjung ke museum seperti ini menurut saya sangat penting untuk menjadi pengingat kita. Sejarah di Kamboja telah membuktikan bahwa manusia satu bisa sangat kejam dengan manusia lainnya. Semoga kita bukan termasuk di dalamnya ya J



Seraya BL, 28 Nov 2016
D

Foto-Foto tahun 2009 ketika berkunjung ke sana





Killing Fields. Buka mulai dar jam 07.30, tiket US$2 (kalau belum naik)
"Hutan" hijau

Kuburan massal 

Kuburan massal

Kuburan massal

Sedih bacanya

Pohon penggantung speaker untuk mengalahkan jeritan korban

Bukti kekejaman Pol Pot


No comments:

Post a Comment

 
feed