Saturday, May 2, 2015

Catatan 25 April 2015

Sebagai dosen, seringkali (bahkan hampir selalu) harus menghadapi mahasiswa yang bermasalah mulai dari masalah ringan dan lucu hingga masalah serius. Kalau hanya sekedar marah dan ngomel ke mahasiswa, itu hal biasa bahkan sudah jadi hobi saya. Tapi, setiap kali melibatkan orang tua pasti langsung lemah hati. sebagai dosen pembimbing, banyak pengalaman yang melemahkan hati.

Suatu hari, pernah seorang ibu menunggu kedatangan saya. Si ibu datang karena ingin berterimakasih karena anaknya baru saja lulus. Ibu ini sangat penasaran dengan dosen pembimbing anaknya yang katanya ditakuti. Kebetulan si anak ini memang terkenal ga beres hidupnya. Kuliahnya yang hampir 10 th sudah cukup jadi bukti ketidakwarasan hidupnya. Begitu ketemu, sejak salaman si ibu sudah sudah berurai airmata dan tidak bisa berkata banyak sampai akhir pertemuan kecuali kata terimakasih yang selalu terucap. Seketika sirna kejengkelan ke mahasiswa yg kelakuannya sudah termasuk kriminal.

Lagi-lagi saya pernah ditelpon ibu mahasiswa minta ketemu. Setelah ketemu baru terungkap ternyata anaknya tertangkap mencuri di suatu mall ketika mengikuti acara kampus. Sebagai seorang ibu, beliau memohonkan ampun ke pihak kampus agar anaknya tidak dikenakan sanksi. Dengan sedih, ibu (yang kebetulan guru madrasah) ini cerita kalau di rumah si anak cukup diberi perhatian dan pendidikan agama, dan nampak baik-baik saja. Terlepas dari tindakan yang diambil, peristiwa ini juga memberi bukti kasih orang tua tetap panjang meski anaknya mencoreng nama baik keluarga.

Peristiwa terbaru ini juga melemahkan hati saya. Sempat ngomel ketika ada salah satu mahasiwa bimbingan, Tony tidak hadir untuk presentasi bab 1 nya tanpa kabar. Dua hari kemudian, orang tua Tony sms minta ketemu, Ketika saya telpon balik, mereka cerita anaknya sedang di RS menunggu hasil lab sehingga tidak bisa ke kampus. Mereka meminta waktu ketemu di kampus untuk mengantarkan surat dari dokter. Saat ketemu di kampus, orang tua yang sederhana ini cerita kalau ternyata anaknya TBC, paru-parunya berkabut akibat selama ini tidak pernah pakai masker dan jaket ala kadarnya jika naik motor ke kampus. Padahal, rumah mereka di Kabupaten Tangerang (jalan raya rajeg-mauk) sekitar 30an km yang melewati kawasan industri penuh asap dan debu. Dalam pertemuan itu, saya berjanji akan membezuk ke rumah suatu hari nanti dan meminta si anak untuk fokus ke pemulihan fisknya dulu.

Dua minggu kemudian, ketika sedang menikmati surprise party ulang tahun, kabar duka mengabarkan mahasiswa bimbingan saya itu meninggal. Sesak dada rasanya, niat membezuk belum tertunaikan. Lemah hati saya melihat orang tua yang berusaha tabah, menceritakan kehilangan anak mereka yang berjanji akan memberikan ijasah sarjana sebagai kado perkawinan.  
Semoga semua niat baik itu sudah dicatat sebagai amalan baik Tony..amien.

Sungguh umur adalah rahasia-Nya..Semoga kita semua bisa mengisi sisa waktu dengan kebaikan, terutama berbakti dan membahagiakan orang tua kita.








No comments:

Post a Comment

 
feed