Jendela Untuk Mereka

Mari mengabdi dan berbagi di Rumah Cerdas Berbudi Luhur (RCBL) di desa Madurejo, Prambanan.

Romantisme Phuket

Senja yang meleleh di Kemala Beach, Phuket-Thailand....satu-satunya destinasi yang membuat kami merasa kaya, sangat direkomendasi untuk traveler kere tapi standar tinggi !

Golden Sunrise, Angkor Wat

Pemerintah Kamboja tahu cara menghargai keindahan alam ini dengan dolar...Sungguh kecantikan sinar emas pagi hari melupakan diri!

Ciao, Venice!

Siapapun yang ke Italy, pergilah ke Venice, the city of water atau Queen of the Adriatic..one of the most beautiful places in the world ..Menyusuri Canal dengan Gondola yang dikayuh oleh Italiano nan tampan, siapa yang tidak lupa diri uhuuuy

Pantaiku Indonesiaku

Mengelilingi Pantai Mutun, Lampung dengan perahu motor,..rasakan kelembutan pasir putih bersihnya, nikmati kesegaran kelapa mudanya..tapi sayang jalan menuju lokasi rusak, PR untuk pemda Lampung!

Wednesday, February 6, 2013

Penterjemahan "Deterrence Strategy"

Judulnya agak ilmiah,..tapi kalau isinya terlalu ilmiah nanti jd paper ya :p

Bagi mahasiswa HI pasti sudah pernah mendengar konsepsi mengenai Detterence. Bagi yang belum sila baca buku-buku rujukan.

Secara sederhana, teori deterrence ini adalah pihak A menyakinkan kepada pihak B bahwa segala aksi atau tindakan yang menyerang pihak A akan mendapat balasan yang lebih hebat, sehingga pihak B tidak jadi berlaku agresif. Singkatnya, pihak lawan harus "believe in second-strike".

Nah, teorisasi yang sebenarnya berkembang ketika Perang Dingin ini ternyata bisa kita aplikasikan dalam kehidupan harian kita. Kesuksesan teori ini dalam kehidupan nyata memerlukan  kematangan dalam berpikir yang akhirnya melahirkan kesabaran. Sabar memang menjadi kata kunci. Sabar diartikan tidak sebagai hanya duduk diam mengelus dada. Sabar disini adalah menahan diri untuk tidak menahan emosi, dan menyerang balik pihak lain (lawan) yang sedang gencar-gencarnya mengumbar emosi kepada kita (ini disebut first-strike). Orang yang menyakini akan second-strike, perlahan namun pasti mengumpulkan semua "amunisi" yang diperlukan untuk sehingga pihak lawan mikir-mikir apabila ingin melakukan serangan yang membabi buta itu. Gampangnya, pembalasan lebih kejam deeeh :)

Saya sendiri menyakini akan kekuatan second-strike itu. Alasannya sederhana, orang yang melakukan first-strike biasanya sedang dilanda emosi tinggi, sehingga luput mempertimbangkan cost and benefit. Orang yang mengumbar emosi biasanya kurang mampu berpikir dan bertindak rasional. Emosi yang tidak dikendalikan bisa merusak hal-hal baik yang ada, atau dalam bahasa kajian strategik keamanan termasuk dalam kategori senjata pemusnah massal.

Menurut pengamatan saya, pengalaman hidup seseorang akan sangat mempengaruhi keputusan kita untuk melakukan first-strike atau second-strike, bagaimana dengan anda?.

Seraya BL, 7 Feb 13

D

»»  ReadMore...

 
feed