Tuesday, November 6, 2012

"Amazing Race" di Cebu



Mabuhay!

Pulau Cebu terletak di Provinsi Cebu yang memang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil. Keindahan pantai, bukit dan gunung yang mengelilingi Pulau Cebu sangat terkenal. Provinsi ini terdiri dari beberapa kota seperti Bogo, San Remigio, Medellin dan Daanbantayan. Berbekal pengetahuan yang minim, saya menyakini kalau Cebu adalah “Bali”nya Indonesia. Saya kemudian pesan online The San Remigio Beach Club Resort untuk dua hari tanpa browsing lebih rinci lagi, karena yakin bakalan seperti Bali dan memang gambar-gambar di web mereka menampilkan resort dengan beach view yang indah. Begitu mendarat di Mactan Cebu Internasional Airport, saya langsung mencari taxi menuju hotel. Taxi pertama yang saya naiki memberikan angka mencengangkan ketika melihat alamat hotel. Jelaslah saya tolak dan minta diantar balik ke airport lagi, dan akan mencari taksi resmi. Rupanya, supir taxi tadi tidak bohong karena hotel kita memang jauuuuh banget dari bandara. Bayangkan saja, bandara-hotel ditempuh dalam 2,5jam dan jalan berkelok-kelok melewati pantai dan bukit yang kata Alin, teman seperjalanan saya ini seperti jalan pulang ke kampungnya di pelosok Medan sana. Harga taksi pun cukup menguras uang saku kita, hampir 350rb jika dirupiahkan, langsung miskin Pesos (PHP) di hari pertama. Saya yang sudah menahan mual sepanjang jalan meliuk akhirnya langsung Jackpot begitu sampai hotel haha!.

Apakah The San Remigio Beach Club Resort seindah di internet?. Silahkan tebak sendiri dari gambar berikut ini:

Sea View


Setelah bertanya ke petugas hotel tentang kemungkinan tempat yang bisa dikunjungi, ternyata memang di sekitar situ tidak ada sesuatu yang happening maka acara berikutnya adalah tidur siang menikmati angin pantai.  Rupanya resort ini memang lebih diperuntukkan untuk mereka yang mau berbulan madu, atau melakukan retreat sehingga yang dijual adalah suasana tenang dan desir ombak,..sungguh jauh dari harapan!

Karena memang tidak ada hal yang bisa dilihat dan dilakukan, saya memutuskan untuk ke kota Cebunya tetapi jelas tidak naik taksi lagi. Dari resort naik becak motor ke terminal bis, ongkos bis sampai  Cebu City ibukota Provinsi Cebu hanya PHP30an atau sekitar 7rb per orang, jauh banget kan dibanding taksi?. Dan perjalanan selama hampir 2.5jam kali ini lebih bisa saya nikmati. Dengan bis yang non-AC, dan penumpang yang ramah saya seperti touring dari desa ke desa menikmati pemandangan Cebu Island.

"ojek"

Sepanjang jalan saya melihat banyak sekali warung yang memajang babi utuh. Ketika di resort saya sempat menyaksikan ada pesta syukuran dengan menu utama babi panggang utuh. Kulitnya yang dipanggang kelihatan coklat mengkilap dan renyah ketika orang-orang memakannya seperti kerupuk. Melihat muka babi yang damai dan nampak lezat (tapi haram untuk saya), jatuh simpati saya pada babi sejak saat itu. Ternyata babi panggang menjadi makanan andalan kota ini, jadi jangan lupa mencicipi babi di warung-warung ya (bagi yang tidak mengharamkan).


Babi itu dampak damai dan kriuuk

Sampai di Cebu City saya bingung waktu ditanya mau turun mana..betul-betul buta, ga ada tujuan..Melihat ada mall megah (SM City Cebu), saya minta turun. Logikanya, di pusat keramaian pasti gampang transportasi dan bisa mencari akomodasi. Jadi, dengan tampang agak lusuh dan menggendong ransel saya memasuki mall elit itu diiringi tampang aneh security guard. Hal pertama yang dicari adalah warnet untuk mencari tempat menginap terdekat dari mall ini. Akhirnya saya menemukan Manggo Hotel hanya 6 menit dari mall, sehingga malam itu saya selamat tidak jadi gelandangan *pheew...

Cebu City yang merupakan ibu kota Provinsi Cebu. Cebu City yang juga terkenal dengan sebutan "Queen City" adalah kota terbesar kedua di Filipina. Para pecinta sejarah pasti akan tertarik dengan kota ini, karena banyak situs atau bangunan bersejarah terutama yang menunjukkan kejayaan bangsa Portugis. Sayang sekali karena sudah menjelang malam banyak tempat yang sudah tutup. Berbekal brosur yang diambil di hotel saya bergegas dengan taksi ke Basilika Minore Del Santo Nino yang buka sampai malam. Sayang sekali suasana saat itu sudah agak gelap, dan tidak banyak lampu yang dinyalakan di basilica yang konon mulai dibangun tahun 1566. Beruntung basilika masih buka jadi saya masih berkesempatan mengangumi kemegahannya, bahkan Alin sempat berdoa di basilika ini. Dari basilika, saya berjalan kaki ke Cebu Metropolitan Cathedral yang letaknya tidak terlalu jauh. Berbeda dengan basilica yang temeraman, katedral ini sungguh sparkling. Arsitektur bangunannya khas bangunan kolonial Spanyol. Lampu menyala artistik di sudut-sudut katedral, dan saya paling suka salib yang menyala di atas bangunan. Suasana orang yang sedang beribadah kelihatan jelas dari luar karena pintu katedral dibiarkan terbuka lebar.

Ornamen di Basilika
Katedral

Dari katedral kita naek Jeepney ke Ayala Center Cebu, mall termegah di Cebu. Tidak banyak hal menarik yang bisa dilakukan di mall,  standar aja seperti mall-mall besar di Indonesia lainnya. Saya lebih tertarik dengan Jeepney  yang saya naiki. Jeepney disana jarang menyalakan lampu padahal Cebu juga tidak terlalu bergelimang lampu ketika malam. Untuk menandai kehadiranya, sebagai ganti lampu  Jeepney menggunakan musik yang disetel kencang. Jadi jangan lupa naek Jeepney keliling Cebu untuk mendapatkan atmosphere kehidupan penduduk lokal. Disamping rata-rata penduduk Cebu yang kita temui ramah, mereka sepertinya juga lebih terbuka. Di dalam Jeepney yang saya naiki malam itu, ada sepasang muda-mudi yang duduk pangku-pangkuan dan mengumbar kemesraan dan sepertinya penumpang lain tidak risih tuh!

Jeepney full color & full music

Pagi hari dengan waktu terbatas, saya segera bergegas melanjutkan sighseeing sebelum terbang ke Manila siang itu. Untuk menghemat waktu saya naik taksi menuju tempat-tempat yang ada di brosur tapi sejalan arah bandara.Untungnya sopir taksi masih muda dan cukup gaul, dia ikut antusias dengan keinginan untuk mengenal kotanya. Dia membawa saya ke  Fort San Pedro, benteng pertahanan militer yang dibangun bangsa Spanyol dan penduduk Cebu. Benteng berbentuk segitiga ini hanya kecil saja, karena waktunya sempit saya tidak masuk hanya foto dan melongok ke dalam saja.

Benteng San Pedro
Dengan terus melihat jam di tangan dan langkah terburu, saya kemudian menuju tempat berikutnya yaitu City Hall dan Magellan's Cross yang letaknya berhadap-hadapan. Magellan's Cross itu salib besar yang ditanam di kapel (di sebelah Basilika) atas perintah Ferdinand Magellan ketika tiba di Cebu tahun 1521. Saya rasanya akrab sekali dengan nama Magellans, teringat sejarah jaman SD dulu. Di sekililing kapel ini banyak banget ibu-ibu dan anak-anak berjualan dupa dan souvenir salib.

Magellan's Cross





Cebu City Hall

 Dari sana, sopir taksi membawa saya ke titik 0km di Cebu City Capitol  yang sekaligus kantor gubernur. Karena jalan berlawanan arah, taksi harus parkir di seberang jalan dan si sopir menyuruh saya menyeberang. Saya dan Alin dengan was-was meninggalkan backpack di taksi. Sambil berlari-lari menuju titik 0km saya masih sempat  berteriak ke Alin di belakang saya “inget-inget nomer taksinya Lin...” Setelah dengan cepat berpose di titik 0km dan dengan patung Lapu-Lapu (pahlawan nasional) bangsa Pinoy, saya kembali berlari menuju taksi. Dan sopir taksi menyambut dengan senyum ramahnya..duuh malu hati ini sempat berpikir negatif….Paumanhin tao! (maap)


Titik Nol Cebu City

Tempat terakhir di Cebu yang kita kunjungi adalah  Battle of Mactan. Awalnya saya semangat sekali, membayangkan ini adalah tempat penuh sejarah perjuangan bangsa Filipino yang dipimpin Lapu-Lapu melawan Ferdinand Magellan. Ternyata begitu sampai disana, itu hanya situs kecil di pinggir laut, yang menurut saya tidak menceritakan sejarah aslinya. Hanya ada tugu peringatan dan patung Lapu-Lapu (yang ternyata ada di semua penjuru tempat). Jadi untuk kedua kalinya saya dan Alin foto lagi dengan pahlawan nasional Filipina ini, tetap dengan sedikit berlari karena harus segera ke bandara. Jarak Battle of Mactan dengan bandara ternyata hanya kurang dari 10 menit. Jadi berakhir sudah petualangan di Cebu Island.

Bye bye Mr Lapu-Lapu
 Meskipun tidak dipersiapkan dengan baik, Cebu trip ini justru seru karena seperti sedang ikut amazing race Asia. Saya tetap merekomendasikan Cebu untuk masuk dalam itinerary bagi mereka yang berniat untuk menjelajah Filipina. Tapi jangan lupa untuk membaca informasi detail mengenai tempat-tempat yang hendak dituju, agar waktu tidak banyak terbuang.

*setelah melalui diedit tulisan ini dimuat di Majalah Aplaus. The Lifestyle Edisi 37/28 September 2012

No comments:

Post a Comment

 
feed