Thursday, July 19, 2012

DOSEN YANG "TERANIAYA"


Kode etik sebagai dosen, kita tidak boleh membeda-bedakan mahasiswa. Kita harus melayani dan membimbing semua mahasiswa dengan tingkat kemauan dan kemampuan yang berbeda-beda juga. 

Semester Genap 2011/2012 nampaknya menjadi semester yang berat buat saya sebagai dosen terutama sebagai pembimbing skripsi. Saya hanya punya 3 mahasiswa bimbingan, tapi ketiga-tiganya "menzalimi" saya dengan caranya masing-masing.

Mahasiswa 1:
Secara akademik bisa dikategorikan cukup membanggakan. Ketertarikannya akan tema yang sama membuat dia menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan saya sebagai pembimbingnya (bagian ini agak berlebihan, abaikan!). Saking majunya, saya sampai kewalahan kalau dia datang menghadap dan mengajak diskusi (tepatnya si dia bermonolog).
Lalu dimana masalahnya?
Sayang sungguh disayang, kemajuan mahasiswa ini di bidang akademik tidak diikuti oleh kemajuan teknologi. Dia ogah punya HP, jadi di jaman satelit ini komunikasi saya dengan dia hanya one way aja. Dia rela menunggu saya berjam-jam dengan penuh ketidakpastian, sedangkan saya sangat tidak rela kesusahan meneror dia karena tidak tau mau telpon atau SMS kemana. Sungguh hubungan dosen-mahasiswa yang satu hala kalau orang Malaysia bilang.
Sebagai tambahan info dari tim rumpi saya, dia lebih rela mengeluarkan uang untuk ngasi makan kucingnya yang lebih dari selusin daripada untuk ngasi makan HP (beli pulsa).

Mahasiswa 2:
Nah yang kedua ini agak kompleks masalahnya. Dia antara penampilan (rambut dan baju), pemikiran dan tulisan sering ga harmoni. Sepertinya dia terobsesi menjadi orang besar, sehingga sebelum tercapai dia membesarkan bodynya dulu (maap ya maen fisik). Rambut kribo, badan gempal tapi suka pake baju ala HULK (yang siap robek). Size doesn’t matter lah ya…
Sudah sejak awal saya mengenal dia sebagai mahasiswa dengan typo error nya mencapai 85% (bahkan lebih). Jadi enak kalo koreksi papernya, tinggal dibuat lingkaran besar 1 di 1 halaman selesai deh (kalau per kata/kalimat dilingkari saya seperti sedang membatik).
Selain salah ketik, dia juga sangat ahli menggunakan kata-kata bombastis. Kata legendaris darinya adalah “Alot dan Panas”, dan sekarang ditambah lagi “harga yang harus dibayar”. Entahlah racun akademik mana yang diminumnya, yang jelas saya hampir putus asa mengoreksi kata2 itu di skripsinya. Untuk membawa skripsinya ke pemirsa, diperlukan empat tenaga tambahan yang akhirnya mereka bisa merasakan penderitaan selama ini mengoreksi skripsi mahasiswa ini.

Mahasiswa 3:
Hmm sebetulnya yang ketiga ini tidak layak disebut sebagai mahasiswa bimbingan saya. Bagaimana tidak, selama satu semester saya hanya ketemu sekali, kemudian dia menolak terus setiap kali saya minta menghadap (hancur keinteletualan saya ditolak mahasiswa bimbingan)..
Setelah merelakan penolakannya, tiba-tiba di akhir semester dia meninggalkan skripsinya yang sudah jadi di meja saya. Apa kabar dunia???
Mungkin karena dia sudah menghabiskan umurnya di kampus lebih dari 10th sehingga dia sudah hapal ritual penyusunan skripsi sehingga tidak perlu bimbingan kali ya.

SKRIPSIERS

Walau bagaimanapun, saya bahagia bisa menjadi pembimbing akademik. Saya tetap mendoakan mereka sukses masa depannya. Dosen itu tidak pernah kalah sukses dengan mahasiswanya loh. Kalo dosennya lebih sukses dibanding mahasiswa ya wajar sekali, tetapi kalau mahasiswanya lebih sukses artinya dosen semakin sukses karena telah mensukseskan mahasiswanya.

Seraya BL, 19 Juli 2012

D




No comments:

Post a Comment

 
feed