26 December 2012

"Hormati Gurumu..Sayangi Teman"

Tiba-tiba teringat sosok mantan Boss almarhum.

Beliau adalah mantan tentara (AU) yang menurut pengakuannya berbintang satu.
Masa lalu beliau yang susah sangat mempengaruhi masa tuanya. Karena terbelenggu oleh masa lalu yang menyedihkan, beliau tidak pernah merasa hidupnya sudah cukup mapan. Saya sering tidak setuju dengan pandangan dan tindakan beliau. Jelas, beliau pun sering marah dengan saya yang dianggap sbg anak kemarin sore yang suka melawan orang tua.

Namun semarah-marahnya terhadap beliau, saya tidak pernah sekalipun (seingat saya) melawan dengan kata-kata kasar. Setiap kali sedang kesal, selalu teringat usia beliau sama dengan pakde saya, dan terbayang beliau adalah orang tua saya juga..maka rasa marah berubah menjadi kasihan  :(
Saya rasa beliau pun juga begitu,..semarah2nya beliau dengan saya, pasti akhirnya kita akan bercanda lagi bagai bapak dan anak..tidak ada dendam diantara kita..memang sudah seharusnya begitu.
Beberapa tahun kemudian, saya selalu merasa sedih setiap kali berjumpa beliau sedang berjalan kaki menuju halte bis. Beliau rela naik kendaraan umum, agar anaknya bisa nyaman naik mobil.
Saya pun merasa kehilangan ketika mendengar kabar beliau meninggal :((
Bagaimanapun beliau adalah guru saya...

Saya semakin belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik. Meski kadang emosi masih menggelora, tapi saya berusaha mengendalikan agar tidak merusak hal-hal baik..
Selalu berusaha menjalankan kata2 bijak ini "perlakukan orang lain, seperti halnya kamu ingin diperlakukan"  dan selalu menyenandungkan syair lagu "hormati gurumu..sayangi teman"


Semoga kita semua menjadi insan yang lebih baik, amien

SerayaBL, 27 Desember 2012

D
  

*tulisan edisi renungan akhir tahun :)




30 November 2012

GAGAL ke MACAU

Kalau mengingat trip ke HK dulu itu dan disuruh cerita lagi saya suka masih deg-degan.

Seperti dalam cerita disini, kita bertiga akhirnya tiba di Guangzhou tanpa masalah visa. Setelah puas jalan-jalan nyasar menikmati Guangzhou kita menuju Macau melalui Zhuhai. Dan pintu Zhuhai ini satu-satunya hal yang luput dari survei informasi saya dalam persiapan trip HK.  Dari Guangzhou – Zhuhai (Gongbei Port) kita naik bis sekitar 2.5 jam.

Masalah muncul ketika tiba di pintu imigrasi Zhuhai. Petugas imigrasi menolak kita masuk ke Macau  lewat port ini (padahal tinggal keluar pintu sudah sampai Macau hiks). Bahkan kita sebetulnya termasuk pendatang haram karena visa kita hanya berlaku utk ZET Shenzhen. Nasib baik kita ga ditahan pihak imigrasi sana :( Satu-satunya jalan kita harus balik lagi ke Shenzhen, naik bis sekitar 3 jam lagi :(( sedangkan bis berangkat jam 16.30.

Jelas sampai Shenzhen sudah malam, demi masuk Macau (hotel disana sudah dibayar hiks) kita langsung menuju port ?? . Saat itu sudah jam 9 malam, dan ferry ke Macau maupun ke HK sudah tidak ada. Di kegelapan malam, kita ditawari taksi ke Macau. Entah karena ga mau rugi hotel di Macau, atau karena pikiran kurang waras karena sudah kena masalah seharian, kita tawar2an harga dan mau naik taksi ke Macau.

Setelah beberapa lama perjalanan, tiba-tiba taksi berhenti di pinggir jalan. Sopirnya keluar mobil dan telpon2an dalam bahasa mandarain yang kita sedikitpun ga tau artinya. Mulai deh perasaan ga enak, dua kakak beradik yang duduk di kursi belakang mulai khusyu memanjatkan doa (makin nambah stress gua aja). Saya yang terpengaruh oleh bidang yang saya geluti yaitu isu2 kejahatan transnasional, saya mulai berhalusinasi mereka adalah para trafficker. Sungguh ironis kalau kita menjadi korban perdagangan wanita, sedangkan tujuan utama kita ke HK adalah ikut konferen dengan paper mengenai hal itu (saat itu kita ga merasa lucu looh)
Beberapa menit dalam situasi menegangkan, saya turun dari mobil. Kebetulan mobil parkir di dekat halte bis yang sepertinya di area kampus. Asumsi saya yang lagi di halte itu pasti mahasiswa, tapi pas saya tanya dalam bahasa Inggris dia cuma geleng2 aja....Chinaa oooh Chinaaa..
Saat itu yang hanya menjadi pegangan adalah feeling saya kalau sopirnya orang baik. Keyakinan itu saya perkuat dengan doa *kalo kepepet bisa religius juga ya hihi
Akhirnya sopir masuk ke mobil dan bilang kalau tidak ada mobil Macau (taksi kita mobil Shenzhen jadi ga bisa nyebrang ke Macau). Saat itu pikiran saya sudah kembali jernih, jadi saya putuskan untuk kembali ke kota Shenzhen. Penumpang di belakang hanya pasrah dan berdoa aja :D

Tiba di stasiun LuoHu sudah jam 11malam lebih. Ada 2 skenario saya, 1. mengejar kereta ke HK (karena HK tetep hidup meski tengah malam); dan 2. menginap di hotel Home Inn LuoHu lagi, jadi pagi buta bisa ke HK mengejar pesawat pulang.

Dengan terseok-seok, si Dina menyeret koper induknya melewati jembatan penyeberangan dan berlarian sepanjang stasiun yang lumayan luasnya. Berbekal informasi kalau kereta terakhir ke HK jam 12malam maka dengan kecepatan rembulan kita berlarian menuju gate HK. Begitu berhasil duduk di MTR, masalah baru muncul, mau tinggal dimana kita di HK?

Flight saya ke JKT jam 11an, sedangkan Dina-Nisa ke KL jam 12an, maka keputusan strategis dibuat: kita menginap di Bandara! ....selain gratis tentunya lebih aman :D 

Berbekal peta HK di tangan, dan memanfaatkan wifi gratis di kereta, kita akan berhenti di stasiun terdekat yang ada line ke airport. Saat itu sekitar jam 00 30 dan di depan kita train terakhir ke airport sudah di depan mata dengan pintu terbuka. Berlarian kita menuju kereta, tapi cilakanya octopus card kita tidak mau membuka pintu penghalang.  Panik,,panik..panik...di gate itu hanya kita bertiga, ga ada petugas...
Saya yang hanya membawa tas kecil dengan lincahnya meloncati pintu besi,..yang ada di kepala, pokoknya harus bisa masuk ke kereta!
Nisa yang tingginya ukuran peragawati juga lincah saja meloncati pintu,...lalu bagaimana Dina dengan koper induknya itu?
Begitu berhasil meloncat dan meletakkan tas, saya segera balik badan berniat membantu menyelamatkan Dina...dan adegan di depan mata saat itu sungguh menakjubkan kalau dibuat slow motion...
 Dina dengan kekuatan induk habis melahirkan, dia mengangkat sendiri kopernya ke atas sambil kakinya meloncati pintu halang yang terbuat dari besi..sungguh contoh nyata dari "power of kepepet"
Dalam keadaan kepepet atau terdesak, orang bisa mempunyai kekuatan yang entah dari mana datangnya. 

Ketika sudah duduk di kereta dan hilang debaran jantung, kita semua tertawa ngakakkk..terbayang adegan loncatan spekatuler tadi hahaha

Sesampainya di airport ternyata tidak ada pintu lagi, jadi kita bisa langsung melenggang masuk. Sejauh mungkin kita menghindari gate ini, takut kelakuan kriminal kita tadi terekam di cctv HK *aib

Malam itu kita menjadi gembel udara..

Masih trauma kalau harus ke HK lagi,.tapi kalau ada yang mau bayarin ya siap aja sii...hehehe

Seraya BL, 1 Des 2012

D








06 November 2012

"Amazing Race" di Cebu



Mabuhay!

Pulau Cebu terletak di Provinsi Cebu yang memang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil. Keindahan pantai, bukit dan gunung yang mengelilingi Pulau Cebu sangat terkenal. Provinsi ini terdiri dari beberapa kota seperti Bogo, San Remigio, Medellin dan Daanbantayan. Berbekal pengetahuan yang minim, saya menyakini kalau Cebu adalah “Bali”nya Indonesia. Saya kemudian pesan online The San Remigio Beach Club Resort untuk dua hari tanpa browsing lebih rinci lagi, karena yakin bakalan seperti Bali dan memang gambar-gambar di web mereka menampilkan resort dengan beach view yang indah. Begitu mendarat di Mactan Cebu Internasional Airport, saya langsung mencari taxi menuju hotel. Taxi pertama yang saya naiki memberikan angka mencengangkan ketika melihat alamat hotel. Jelaslah saya tolak dan minta diantar balik ke airport lagi, dan akan mencari taksi resmi. Rupanya, supir taxi tadi tidak bohong karena hotel kita memang jauuuuh banget dari bandara. Bayangkan saja, bandara-hotel ditempuh dalam 2,5jam dan jalan berkelok-kelok melewati pantai dan bukit yang kata Alin, teman seperjalanan saya ini seperti jalan pulang ke kampungnya di pelosok Medan sana. Harga taksi pun cukup menguras uang saku kita, hampir 350rb jika dirupiahkan, langsung miskin Pesos (PHP) di hari pertama. Saya yang sudah menahan mual sepanjang jalan meliuk akhirnya langsung Jackpot begitu sampai hotel haha!.

Apakah The San Remigio Beach Club Resort seindah di internet?. Silahkan tebak sendiri dari gambar berikut ini:

Sea View


Setelah bertanya ke petugas hotel tentang kemungkinan tempat yang bisa dikunjungi, ternyata memang di sekitar situ tidak ada sesuatu yang happening maka acara berikutnya adalah tidur siang menikmati angin pantai.  Rupanya resort ini memang lebih diperuntukkan untuk mereka yang mau berbulan madu, atau melakukan retreat sehingga yang dijual adalah suasana tenang dan desir ombak,..sungguh jauh dari harapan!

Karena memang tidak ada hal yang bisa dilihat dan dilakukan, saya memutuskan untuk ke kota Cebunya tetapi jelas tidak naik taksi lagi. Dari resort naik becak motor ke terminal bis, ongkos bis sampai  Cebu City ibukota Provinsi Cebu hanya PHP30an atau sekitar 7rb per orang, jauh banget kan dibanding taksi?. Dan perjalanan selama hampir 2.5jam kali ini lebih bisa saya nikmati. Dengan bis yang non-AC, dan penumpang yang ramah saya seperti touring dari desa ke desa menikmati pemandangan Cebu Island.

"ojek"

Sepanjang jalan saya melihat banyak sekali warung yang memajang babi utuh. Ketika di resort saya sempat menyaksikan ada pesta syukuran dengan menu utama babi panggang utuh. Kulitnya yang dipanggang kelihatan coklat mengkilap dan renyah ketika orang-orang memakannya seperti kerupuk. Melihat muka babi yang damai dan nampak lezat (tapi haram untuk saya), jatuh simpati saya pada babi sejak saat itu. Ternyata babi panggang menjadi makanan andalan kota ini, jadi jangan lupa mencicipi babi di warung-warung ya (bagi yang tidak mengharamkan).


Babi itu dampak damai dan kriuuk

Sampai di Cebu City saya bingung waktu ditanya mau turun mana..betul-betul buta, ga ada tujuan..Melihat ada mall megah (SM City Cebu), saya minta turun. Logikanya, di pusat keramaian pasti gampang transportasi dan bisa mencari akomodasi. Jadi, dengan tampang agak lusuh dan menggendong ransel saya memasuki mall elit itu diiringi tampang aneh security guard. Hal pertama yang dicari adalah warnet untuk mencari tempat menginap terdekat dari mall ini. Akhirnya saya menemukan Manggo Hotel hanya 6 menit dari mall, sehingga malam itu saya selamat tidak jadi gelandangan *pheew...

Cebu City yang merupakan ibu kota Provinsi Cebu. Cebu City yang juga terkenal dengan sebutan "Queen City" adalah kota terbesar kedua di Filipina. Para pecinta sejarah pasti akan tertarik dengan kota ini, karena banyak situs atau bangunan bersejarah terutama yang menunjukkan kejayaan bangsa Portugis. Sayang sekali karena sudah menjelang malam banyak tempat yang sudah tutup. Berbekal brosur yang diambil di hotel saya bergegas dengan taksi ke Basilika Minore Del Santo Nino yang buka sampai malam. Sayang sekali suasana saat itu sudah agak gelap, dan tidak banyak lampu yang dinyalakan di basilica yang konon mulai dibangun tahun 1566. Beruntung basilika masih buka jadi saya masih berkesempatan mengangumi kemegahannya, bahkan Alin sempat berdoa di basilika ini. Dari basilika, saya berjalan kaki ke Cebu Metropolitan Cathedral yang letaknya tidak terlalu jauh. Berbeda dengan basilica yang temeraman, katedral ini sungguh sparkling. Arsitektur bangunannya khas bangunan kolonial Spanyol. Lampu menyala artistik di sudut-sudut katedral, dan saya paling suka salib yang menyala di atas bangunan. Suasana orang yang sedang beribadah kelihatan jelas dari luar karena pintu katedral dibiarkan terbuka lebar.

Ornamen di Basilika
Katedral

Dari katedral kita naek Jeepney ke Ayala Center Cebu, mall termegah di Cebu. Tidak banyak hal menarik yang bisa dilakukan di mall,  standar aja seperti mall-mall besar di Indonesia lainnya. Saya lebih tertarik dengan Jeepney  yang saya naiki. Jeepney disana jarang menyalakan lampu padahal Cebu juga tidak terlalu bergelimang lampu ketika malam. Untuk menandai kehadiranya, sebagai ganti lampu  Jeepney menggunakan musik yang disetel kencang. Jadi jangan lupa naek Jeepney keliling Cebu untuk mendapatkan atmosphere kehidupan penduduk lokal. Disamping rata-rata penduduk Cebu yang kita temui ramah, mereka sepertinya juga lebih terbuka. Di dalam Jeepney yang saya naiki malam itu, ada sepasang muda-mudi yang duduk pangku-pangkuan dan mengumbar kemesraan dan sepertinya penumpang lain tidak risih tuh!

Jeepney full color & full music

Pagi hari dengan waktu terbatas, saya segera bergegas melanjutkan sighseeing sebelum terbang ke Manila siang itu. Untuk menghemat waktu saya naik taksi menuju tempat-tempat yang ada di brosur tapi sejalan arah bandara.Untungnya sopir taksi masih muda dan cukup gaul, dia ikut antusias dengan keinginan untuk mengenal kotanya. Dia membawa saya ke  Fort San Pedro, benteng pertahanan militer yang dibangun bangsa Spanyol dan penduduk Cebu. Benteng berbentuk segitiga ini hanya kecil saja, karena waktunya sempit saya tidak masuk hanya foto dan melongok ke dalam saja.

Benteng San Pedro
Dengan terus melihat jam di tangan dan langkah terburu, saya kemudian menuju tempat berikutnya yaitu City Hall dan Magellan's Cross yang letaknya berhadap-hadapan. Magellan's Cross itu salib besar yang ditanam di kapel (di sebelah Basilika) atas perintah Ferdinand Magellan ketika tiba di Cebu tahun 1521. Saya rasanya akrab sekali dengan nama Magellans, teringat sejarah jaman SD dulu. Di sekililing kapel ini banyak banget ibu-ibu dan anak-anak berjualan dupa dan souvenir salib.

Magellan's Cross





Cebu City Hall

 Dari sana, sopir taksi membawa saya ke titik 0km di Cebu City Capitol  yang sekaligus kantor gubernur. Karena jalan berlawanan arah, taksi harus parkir di seberang jalan dan si sopir menyuruh saya menyeberang. Saya dan Alin dengan was-was meninggalkan backpack di taksi. Sambil berlari-lari menuju titik 0km saya masih sempat  berteriak ke Alin di belakang saya “inget-inget nomer taksinya Lin...” Setelah dengan cepat berpose di titik 0km dan dengan patung Lapu-Lapu (pahlawan nasional) bangsa Pinoy, saya kembali berlari menuju taksi. Dan sopir taksi menyambut dengan senyum ramahnya..duuh malu hati ini sempat berpikir negatif….Paumanhin tao! (maap)


Titik Nol Cebu City

Tempat terakhir di Cebu yang kita kunjungi adalah  Battle of Mactan. Awalnya saya semangat sekali, membayangkan ini adalah tempat penuh sejarah perjuangan bangsa Filipino yang dipimpin Lapu-Lapu melawan Ferdinand Magellan. Ternyata begitu sampai disana, itu hanya situs kecil di pinggir laut, yang menurut saya tidak menceritakan sejarah aslinya. Hanya ada tugu peringatan dan patung Lapu-Lapu (yang ternyata ada di semua penjuru tempat). Jadi untuk kedua kalinya saya dan Alin foto lagi dengan pahlawan nasional Filipina ini, tetap dengan sedikit berlari karena harus segera ke bandara. Jarak Battle of Mactan dengan bandara ternyata hanya kurang dari 10 menit. Jadi berakhir sudah petualangan di Cebu Island.

Bye bye Mr Lapu-Lapu
 Meskipun tidak dipersiapkan dengan baik, Cebu trip ini justru seru karena seperti sedang ikut amazing race Asia. Saya tetap merekomendasikan Cebu untuk masuk dalam itinerary bagi mereka yang berniat untuk menjelajah Filipina. Tapi jangan lupa untuk membaca informasi detail mengenai tempat-tempat yang hendak dituju, agar waktu tidak banyak terbuang.

*setelah melalui diedit tulisan ini dimuat di Majalah Aplaus. The Lifestyle Edisi 37/28 September 2012

05 November 2012

Jawa Dimana-mana | Dimana-mana Jawa

Kalau liat muka banyak yang menebak saya asalnya dari Jawa, apalagi kalau denger logat saya..bakalan yakin 100% Jawa! Ya, benar,.leluhur saya dari Solo dan Wonogiri.

Meski sudah sering pergi ke luar negeri kemampuan berbahasa Jawa saya tetap terpelihara. Bagaimana tidak, mau ke ujung dunia manapun saya selalu ketemu orang Jawa. Sampai terpikir apakah penyebaran orang Jawa ini sama dengan fenomena Cina Perantauan ya?

Buktinya; 

Selama tinggal di Malaysia, sehari-hari saya masih sering mendengar dan menggunakan bahasa Jawa. Banyak yang meski sok dimelayukan logatnya tetep aja masih kethok medhok jawane maaass....


Pas di Brunei juga gitu, mbak kondektur bis yang saya naiki juga ngomong Jawa. Dia nampak hapal semua penumpang, dan mereka saling menyapa,..tentu saja dalam basa Jawa :) ..jadi kayak lagi piknik ke Wonosari aja deh :)

Apalagi pas ke Hong Kong yang terkenal sebagai kantong TKI,.yang namanya hiruk pikuk padatnya orang dimana-mana kok ya terdengar orang-orang ngomong Jawa, mana kenceng pula suaranya..pokoknya megang banget deh mereka.

Kagetnya lagi ketika ke Paris, saya nebeng di rumah temen (orang Bali) yang bersuamikan orang Perancis asli. Memang si mukanya bule, tapi si mas ini ternyata turunan orang Semarang dan ngomong Jawanya medhoook banget "saya ndak mudheng kalau bahasa gaul" haisssh bulene ngapusi tenan..dan jangan salah, dia pinter ndalang looh (budaya memang borderless ya).

Pernah juga, dalam jamuan di kapal Perancis yang lagi merapat di Priuk saya dikenalkan dengan Atase Pertahanan Singapura. Untuuuung saya belum sok-sokan ngomong Inggris ya, jebule dia nyerocos "..opo..opoo..ra seneng mendem yo?" laaah Cino Jowo dia :D

Wajar saja kalau Jawanisasi tidak hanya masuk isu SARA di Indonesia tapi harus masuk agenda global ni :))

Seraya BL


D






21 October 2012

EXPIRED (aaah sudah biasa)


Selama saya tinggal di Malaysia makanan dan barang2 kami selalu berlebihan. Biasanya karena setiap kali mudik kita selalu membawa barang2 wajib anak kos made in Indonesia seperti mie instan dan saos sambel. Biasanya kalau lagi bongkar2 dan nemu barang2 yang hampir kadaluarsa kita segera sedekahkan kepada anak kos lainnya yg lebih ganas makannya. Tetapi housemates saya yang terakhir ternyata memiliki usus kere yang  ga mempan barang kadaluarsa. Ini sedikit buktinya;
-   Housemate 1 pernah makan salad buah dengan saos salad yang sudah kadaluarsa 6 bulan. Sakit? Engga tuh..sehat-sehat aja sampai sekarang, hanya tesisnya ga selesai-selesai (asiiik nemu kambing hitam).
-   Housemate 2 perutnya kere juga. Dia makannya agak milih2, nah pas puasa setiap hari andalannya goreng ayam tepung plus saos sambel utk sahurnya. Suatu hari, datang temen nebeng nginep di tempat kita. Ketika mau sahur (kebetulan dg menu ayam goreng) dia nanya “mbak saos sambelnya mana?”. Saya pun menunjuk tempat saos. Dan dia komplen “loh ini saosnya kan udah kadaluarsa dua bulan”. Si housemate 2 yg lagi sahur dg menu andalan dia langsung melongo..dan terbata “gua tiap hari makan pake saos itu” ;((..akhirnya dia pun tidak meneruskan tesisnya sampai sekarang hihihi
Saya sendiri punya pengalaman, tapi bukan saos melainkan dengan obat kadaluarsa. Ceritanya mag saya yg agak akut lagi kambuh. Tanpa melihat tanggal kadaluarsanya dulu, saya minum obat yg ada. Alih2 sembuh, saya malah muntah2 ga berhenti. Pas mau minum obat terakhir saya iseng liat tanggalnya dan astaagaaah ternyata sudah kadaluarsa hampir 3 bulan. Obat itu belum lama dikasi oleh temen yg dokter. Kepedean dikasi obat gratisan, ga dicek lagi sampai kapan berlakunya. Untuuung usus kere semua :))

Kini saya lebih waspada lagi. Mulai selektif tanggal2 expired dan “best before”. Saya pun menemukan cara utk mengawetkan makanan di rumah. Bekukan! Ya bekukan saja dawet atau gule di kulkas, dan panaskan dengan microwave jika akan disantap 

Seraya BL, 21 Okt 2012

D


15 September 2012

BATU BOLONG #Lombok

Tanpa reservasi saya keliling sepanjang senggigi mencari penginapan murah. Pilihan saya adalah dekat pantai atau ada kolam renang dan tentu saja murah!
Setelah melihat beberapa penginapan pilihan jatuh ke hotel transit, karena langsung punya akses k pantai meski tanpa kolam renang, dan yang lebih penting ada Hot Water! Makin uzur ga sanggup mandi air dingin malam2..harga yang ditawarkan 350rb dan setelah nego 300rb (sesuai harga online)

Hotel ini terletak di kawasan Batu Bolong agak jauh dari pantai senggigi. Cocok untuk yang ingin berlibur menikmati pantai, dan  jauh dari keramaian. Kalau penyuka “lampu merah” jangan menginap disini. Tapi kita juga bisa naek jetski atau banana boat atau mau berlayar juga boleh!

Setelah check in, Idham dan Nitha mengajak saya makan bakso HIU..ngilu dengernya :D Warung Bakso Hiu tidak jauh dari hotel, dan tidak begitu lama kita langsung disuguhkan semangkuk penuh bakso hiu + jamur + sosis + telur puyuh + steak sampai kuahnya ga kelihatan. Kata Idham kalau habis makan bakso hiu jangan mandi di laut nanti kecium kawan2 si hiu waaaa jadi artis film SHARK kita nanti haha


semangkuk paket TOP KULINER minus udang
    

Paginya, saya menikmati sarapan di pinggir pantai yang tenang. Di depan saya menghampar pasir hitam, gradasi laut biru – hijau, dan deburan ombak plus pemandangan mas londo berperut kotak2 yang sedang bermain dengan anjingnya di laut, WOW lagi deeh..

breakfast

sea view






Sedikit malas beranjak, akhirnya saya berjalan menyusuri pantai tapi rupanya saya tidak mengarah ke pura Batu Bolong. Pantai batu bolong lumayan bersih. Para pengelola resort sepanjang pantai sadar akan kebersihan. Pagi itu mereka menyapu daun2 di sepanjang pantai yang jadi areanya.

Meski tidak melakukan aktifitas air, saya cukup puas dengan hanya duduk dan membaca di pinggir pantai saja..tentunya ditemani secangkir teh hangat! Hoaaaam...

 














Batu Bolong, 15 September 2012

D

14 September 2012

MABUK HALAL DI LOMBOK (baca dulu ceritanya!)


Sudah lama ingin ke Lombok, akhirnya kesampaian juga setelah menerima undangan untuk hadir di Konferensi Nasional Pusat Studi Linkungan Indonesia,.yeaaay
Sayangnya, venuenya adalah di tengah kota Mataram. Konferensi pun berlangsung sampai malam, jadi selama dua hari di Lombok saya tidak berjumpa dengan butiran pasir pantai,.Lombok jadi ga pedes..


Di hari ketiga, akhirnya saya dengan ditemani mantan mahasiswa UBL (mudahnya disebut demikian) dengan semangat piknik kita menuju Gili Trawangan (Gili terbesar dibandingkan Gili Air dan Gili Meno di lombok).
Berangkat dari Mataram sudah hampir jam 2 dan sampai di Pelabuhan Bangsal Pemenang, tempat penyeberangan jam 3 kurang. Ada dua pilihan menuju Gili Trawangan, naik public boat (tiket 10rb per kepala) atau sewa private boat (lk 500rb pp).

Setelah menunggu hampir 15 menit kami pun menaiki boat. Mesin motor boat agak susah nyala dan terbatuk-batuk membuat saya agak deg-degan. Ditambah lagi  kombinasi antara laut yang mulai pasang dan angina yang sedang kencang. Mas di sebelah saya seorang instruktur outbond yang kerjaannya wara wiri naek boat tanpa saya tanya menjelaskan dengan sabar apa yg sdg dihadapi.
“kalau di antara gili memang begini, karena anginnya terjebak, nanti kalau sdh lewat airnya agak tenang”
Ketika saya sdh sangat pucat dan keringat dingin dia berkata “tinggal satu gili lagi kok” Alih-alih menenangkan, kata 1 gili lagi menambah beban pikiran saya yang ingin segera sampai.
Beberapa kali ombak ada di samping saya dan seperti hampir menelan boat yang lagi batuk ini. Beberapa penumpang yang egois mengambil pelampung. Saya hanya melihat beberapa jaket pelampung tidak sebanding dengan sesak penumpang. Untung saya baru baca buku “si cacing..” jadi saya kalem aja,. Saya tidak takut dengan gelombang dan angin laut, tapi perut saya bergejolak sekali. Jangankan di laut yang bergelombang, di darat mulus aja saya bisa jackpot :D
Perjalanan yang seharusnya hanya sekitar  30an menit itu menjadi lebih lama, sehingga ketika turun saya betul-betul sudah pucat!
Meski dg terhuyung memucat, saya menjadi antusias melihat jejeran perahu di atas air hijau-biru dan pasir putih. Nampak beberapa mbak2 bule snorkeling di dekat perahu, sedang di pinggir pantai banyak yang sunbathing.
Hey para alay: “Jadi gua harus bilang WOW” nih!
Gili Trawangan

meski memucat tetep gembireee...

kalo rental sepeda siap2 mengayuh di pasir ya

"jadi gua harus bilang WOW"


Karena boat terakhir jam 5pm dan kaki masi lemas kita bertiga naek cidomo (delman kuda) keliling Gili Trawangan. Kata mas kusir, tarif resmi keliling 125rb..kalo yg naek bule bisa lebih mahal lagi. Belum hilang mabok laut saya, ternyata naek cidomo juga penuh gejolak. Si kuda kecil berlari kecil di atas pasir, manakala kita terlempar-lempar di atasnya doooh mabok lagiiii aaah,,…mabok lagiii..

Keliling dengan cidomo kurang dari sejam saja seluruh Gili Trawangan sudah habis. Goncangan sepanjang jalan terbayar dengan keindahan pantai dan pemandangan yang mengelilinginya. Saya cukup puas meski hanya keliling saja karena memang harus segera mengejar boat terakhir. Ternyata kita harus naek boat tambahan jadi bayar 15rb per orang.

boarding..siap2 memucat lagi

Dalam perjalanan balik, lagi-lagi boat kita diguncang angin dan ombak yang sering menampar pipi saya (dibayar di dunia nih). Rasanya ombak dan angin pulang lebih ganas, bahkan mbak2 di depan saya komat kamit baca doa ga putus2. Tapi mas di depan saya tetep asik ngunyah satenya, bahkan pake mengeluarkan tangan menyentuh ombak hanya untuk cuci tangan sesudah makan ckckckck  Saya memilih merem aja, perut mual setiap melihat si mas mengunyah makanannya.  Hal yang menenangkan saya adalah melihat ekspresi “sopir” boat yang nampak tenang dan mantab mengemudi, didukung oleh mesin boat yang besar dan laju. Saking mantab dan lajunya, dia tidak peduli ketika semua penumpang menjerit karena boat kita seperti mau ditelan ombak ketika ngepot (ga tau bahasa Indonesianya haha) Dan memang terbukti kita sampai lebih cepat pheeeww…

Sungguh short trip yang sangat memabukkan,..tidak perlu minum alkohol atau ngelem kalau cuma pengen mabok,..dan yang ini MABUK HALAL loooh..

Senggigi, 14 September 2012
D

02 August 2012

SIDANG dengan genre KOMEDI

Berikut cerita lanjutan dari ini dengan tokoh utama si Mahasiwa 3.

Setelah melewati bimbingan akhirnya Mahasiswa 1 dan Mahasiswa 2 dinyatakan siap untuk diuji. Sedangkan Mahasiswa 3 menempuh jalur khusus, tanpa bimbingan langsung sidang..Ruarr Biasaa!!

Mahasiswa 1
Seperti telah diceritakan, Mahasiswa 1 ini proses bimbingannya berjalan monolog dan lancar. Masalah dia hanya susah dihubungi itu saja! Di hari sidang, kita harus menunggu kedatangannya. Dia tidak telat hanya karena sidang sebelumnya selesai lebih cepat maka sidang dimajukan. Cilakanya, kita tidak bisa tau dia sudah sampai mana. Begitu datang, ternyata dia didampingi oleh ibundanya. Dan memang doa ibu sepanjang sidang mampu mendinginkan ruangan sidang meski diskusi berlansung cukup panas. Sudah bisa ditebak dia berhasil lulus dengan nilai A

Mahasiswa 2
Kalo mahasiswa ini sungguh merepotkan semua pihak. Akibat typo dia yg nyaris sempurna, saya membuat deal bahwa skripsinya akan disetujui apabila kesalahan teknis dalam penulisan diperbaiki karena secara substansi sudah memenuhi standar. Sebelum sidang, badan HULK nya melemas karena buang-buang air akibat stress akan maju sidang. Tetapi di hari H dia tampil prima dan bisa meraih nilai A..woow, saya aja ga nyangka.

Mahasiswa 3
Sudah sejak awal dia memang istimewa. Karena tidak pernah bimbingan, maka saya akan bertindak sebagai dosen penguji dan bukan dosen pembimbing. H-1 dia menghadap dan meminta "saya yang penting LULUS aja dah bu..", loh bukannya itu keinginan seluruh mahasiswa ya??
Ketika dia minta tips menghadapi sidang, saya hanya menuntut 1 hal "kamu bisa menceritakan isi skripsimu" ituuu saja..
Di hari H, dengan muka tegang dia memulai presentasinya. Di luar dugaan kami semua, 15 menit pertama dia menguasai mimbar. Presentasinya meski agak terbata-bata cukup menjelaskan isi skripsinya. Nah, tibalah sesi tanya jawab yang ternyata penuh dengan gelak tawa kami (muka dia tetep tegang). Beberapa  pertanyaan tim penguji dijawab dengan gelak tawa pemirsa;

T : "apa maksudnya pariwisata?"
J  : "hasrat pak.."

T : "isu itu apa?"
J  : "isu itu gosip pak.."

Sidang berlangsung sangat interaktif karena di sela-sela tanya jawab dia sering meminta penguji mengulang pertanyaannya

"bisa ga pak pertanyaannya lebih slow (maksudnya bahasanya lebih sederhana)" ... "bisa diulang pertanyaannya?"

dan ketika saya meminta dia santai dalam menjawab, dia berkata;
"et dah bu..saya tegang iniii.."
"saya merenung ini.."
"..saya ini kan betawi, susah saya ngomong formalnya dah"
 buru-buru saya mengingatkan tidak perlu curhat, dan itu SARA!

Setelah sesi tanya jawab, tim penguji berunding..dan akhirnya menyepakati Mahasiswa 3 LULUS. Kelulusannya bukan karena kita memenuhi keinginannya begitu saja, tapi karena tim melihat usaha keras dia dalam sidang,..dan jujur, sangat menghibur pamirsa yang hadir :D

Bagitu dinyatakan lulus, dia malah terbelalak;
"bener nih bu saya LULUS?" "saya keluar dr B L nih?"

saya pun mengiyakan, lalu dia dengan airmata tergenang dan tangan dingin mencium tangan saya..mengucapkan maap dan terimakasih..saya pun ikut menggenang huhuhu

Drama sidang genre komedi berakhir dengan haru dan happy ending
Ahhh sungguh seorang dosen itu berhati lemah ya, meski sempat kesel dan terhina secara akademik, luluh begitu saja melihat mahasiswanya bahagia karena kelulusannya. Dan momen seperti ini selalu hadir di tiap semester..

Selamat untuk Farid Supermom, Fia, Ambon, Irma  Agi, Putra dan Brasco dan seluruh mahasiswa yang baru saja lulus
Semoga menjadi awal kesuksesan kalian semuanya..



BL, 3 Agustus 2012

D






23 July 2012

BOOKING HOTEL ONLINE


Selain tiket murah, yang biasa diburu orang mau jalan-jalan adalah penginapan yang strategis dan tentunya murah. Biasanya untuk mendapatkan akomodasi yang murah dan layak, kita akan meminta rekomendasi dari orang-orang yang pernah pergi ke tempat tujuan, atau mencari informasi di internet. Kalau tidak punya tumpangan, biasa saya memesan akomodasi melalui web. Gara-gara pengalaman dulu pernah salah pesan hotel di Filipina yang tempatnya jauh dari peradaban, saya kini lebih teliti dalam memesan hotel. Pertama yang saya lihat adalah lokasi dengan mempertimbangkan apakah dekat dengan tempat-tempat yang hendak dituju; bagaimana transportasi dari dan menuju kesana? Dan yang jelas apakah harganya sesuai dengan kantong (baca: murah!).

Setelah menemukan beberapa tempat yang memenuhi kriteria-kriteria itu, kemudian saya akan melihat ulasan mereka yang pernah menginap sebelumnya. Ulasan ini sangat subyektif, tergantung pengalaman masing-masing orang, tetapi bisa menjadi bahan pertimbangan kita. Misalnya, ada yang tidak puas dengan suatu hotel karena tidak ada jendelanya, meski semua fasilitas memuaskan. Buat saya, itu bukan masalah kalau memang tujuan utama kita adalah jalan-jalan bukan menikmati pemandangan dari hotel. Saya pernah dapat hotel bagus di Shanghai, meskipun dengan kondisi “no window” tapi tempar tidurnya twin dengan ukuran king size. Untuk kaki pegal setelah seharian jalan, kasur nyaman lebih penting daripada jendela bukan?. Tetapi ketika di Phuket, saya pernah menginap di hotel yang memenuhi semua kriteria itu dengan bonus beach view, wow..    

Dimana bisa memesan hotel?
Ada banyak cara memesan hotel,..selain melalui telpon langsung (nasional), kita juga bisa membeli voucher dari travel agent yang biasanya lebih murah daripada kalau reserve langsung ke hotelnya. Harga hotel yang dipesan langsung dari kaunter hotel di airport juga seringkali diskon. Cara yang paling praktis di era sekarang ini jelas booking hotel secar online melalui laman web hotel langsung atau lewat beberapa laman web berikut ini;

www.asiatravel.com
Kelebihan dari Asiatravel yang sering ditawarkan adalah fasilitas instant booking dan last minute deal tanpa jaminan kartu kredit. Asiatravel juga sering memberikan promo diskon murah tetapi kita harus mencapai nilai poin untuk bisa menggunakan kode promo.
Informasi availability room dan harga sangat jelas jadi kita bisa milih hari dan harga yang cocok. Harga yang ditampilkan belum termasuk service charge (sekitar 10%) plus pajak. Disini kita juga bisa sekaligus booking flight dan tiket masuk ke beberapa tempat seperti Universal Studio, Singapura.

www.asiarooms.com
Prosedur booking di AsiaRoom praktis dan mudah dilakukan. Kita tinggal memilih di search engine maka keluar nama-nama hotel pilihan. Tersedia juga kolom review, sehingga kita bisa membaca ulasan pengalaman mereka yang pernah menginap. AsiaRoom tidak meminta payment langsung, tapi tetap meminta kartu kredit kita sebagai jaminan. Hanya saja prosedur untuk pembatalan harus H-7 kalau tidak bisa kena charge 1 malam.

www.booking.com
Sama halnya dengan AsiaRom, memesan hotel di Booking.com tidak diminta payment di muka. Kita bisa membayar cash atau menggunakan kartu lain ketika check in (tergantung kebijakan hotel). Booking.com hanya meminta informasi kartu kita sebagai garansi saja. Apabila kita tidak datang (batal) pada tanggal pemesanan, maka otomatis akan dikenakan biaya pemesanan satu malam. Berbeda dengan provider sebelumnya yang lebih fokus ke hotel-hotel di Asia, cakupan hotel Booking.com worldwide.

www.hostelworld.com
Cakupan hotel Hostelworld juga worldwide. Sesuai dengan namanya, provider ini lebih banyak memberikan pilihan akomodasi untuk para backpacker atau budget traveler. Hitungan Hostelworld adalah per person, jadi kalau kita pergi berdua atau bertiga kadang jatuhnya lebih mahal. Beberapa kali saya bandingkan, harga hotel lebih murah kalau bayarnya bisa sharing dengan teman seperjalanan, daripada menginap di hostel tapi bayar per kepala. Tetapi kalau pergi berenam kita bisa memesan type dormitory di Hostelworld.

www.rajakamar.com
Kalau provider ini khusus menyediakan hotel-hotel di Indonesia. Harga yang ditawarkan memang sering lebih murah. Tapi saya agak malas booking disini karena harus register dulu. Setelah pemesanan berlangsung kita harus menunggu sms/email konfirmasi agak lama dan belum tentu kamar yang kita pesan tersedia.

www.agoda.com
Saya paling sering booking hotel lewat Agoda, bahkan bisa dikatakan ini web favorit saya. Hampir sama dengan web lainnya, booking online melalui Agoda prosesnya juga mudah dan cepat. Agoda memberikan garansi harga termurah dan telah terbukti dalam beberapa kali pemesanan yang saya lakukan. Agoda juga menawarkan perubahan dan pembatalan gratis (asal kurang dari 24 jam/tergantung kebijakan hotel). Kelebihan lainnya adalah poin yang kita peroleh bisa digunakan dalam pemesanan berikutnya. Hanya dengan memberikan ulasan kita bisa mendapatkan dan menggunakan poin kita. Ulasan ini meski subyektif cukup menjadi bahan masukan sebelum memesan suatu hotel. Sayangnya Agoda langsung meminta pembayaran dengan kartu kredit.

www.airasia.com
Airasia terkenal sebagai maskapai yang sering menawarkan promo-promo terbang murah bahkan gratis. Dengan slogan “everyone can fly” betul-betul membantu orang-orang yang seperti saya, doyan jalan tapi duit terbatas hahaha! Memesan hotel+flight disini secara paket akan lebih murah dibanding hanya memesan hotel saja.

Dimanapun  anda melakukan pemesanan hotel, pastikan kartu kredit anda mempunyai limit yang cukup dan jangan lupa membawanya ketika check in. Demi keamanan pemilik kartu, beberapa hotel akan meminta kita menunjukkan fotocopy kartu yang digunakan untuk booking. Bahkan pihak hotel bisa menolak apabila kita tidak mampu menunjukkan kartu yang digunakan dalam pemesanan. Semua itu untuk menghindari penyalahgunan transaksi online yang marak di dunia maya.

Seraya BL, 13 Juni 2012

D